Gerakan mempermalukan orang yang naik pesawat adalah tentang merasa bertanggung jawab atas jejak karbon Anda - juga tentang menemukan kembali kegembiraan perjalanan yang lambat di darat.

Bulan lalu, untuk pertama kalinya saya naik pesawat setelah lima tahun absen.

Saya terbang dari London, melintasi Atlantik, untuk tinggal bersama pasangan saya di Kosta Rika.

  • Mengapa bepergian itu penting? Mantan Presiden AS Barack Obama menjawabnya
  • Mengapa Anda kesulitan mengendalikan pengeluaran saat liburan?
  • Ingin liburan bersama selingkuhan, perempuan Prancis berpura-pura diculik

Sebelumnya, saya terakhir kali terbang saat tinggal di Bordeaux, Prancis, pada tahun 2014.

Pergi ke pesta lajang saudara perempuan saya di Skotlandia dengan kereta api - mode transportasi favorit saya - akan memakan waktu berhari-hari. Jadi saya memutuskan untuk terbang dengan pesawat.

Alasan saya menghindari terbang, karena pesawat meninggalkan jejak karbon yang lumayan banyak.

Hak atas foto Getty Images Image caption Terbang mungkin merupakan aktivitas yang paling banyak menghasilkan karbon yang bisa Anda lakukan.

Sejak masih remaja, saya sudah merasa tidak nyaman saat memikirkan emisi akibat pesawat karena saya mendapat informasi tentang perubahan iklim dan dampaknya.

Lagipula, terbang bisa jadi adalah aktivitas yang paling banyak menghasilkan karbon yang bisa Anda lakukan setiap hari.

Akhirnya saya bersumpah hanya akan menggunakan pesawat jika benar-benar diperlukan. Saya tidak sendirian.

Hak atas foto Getty Images Image caption Selama sekitar setahun terakhir, gerakan anti-naik pesawat yang dalam bahasa Inggris disebut "flight shame" - atau flygskam dalam bahasa Swedia, tempat di mana gerakan itu dimulai - semakin marak di Eropa.

Selama sekitar setahun terakhir, gerakan anti-naik pesawat yang dalam bahasa Inggris disebut "flight shame" - atau flygskam dalam bahasa Swedia, tempat di mana gerakan itu dimulai - semakin marak di Eropa.

Istilah ini kian jadi perbincangan saat masyarakat perlu secara dramatis mengurangi emisi gas rumah kaca.

Bagi saya, ada ironi yang menyakitkan antara perasaan bahagia selama menikmati penerbangan akhir pekan dan dampak perubahan iklim yang menghancurkan.

Yang lain menyebutnya sebagai rasa malu untuk terbang padahal "sudah tahu dampak buruk penerbangan bagi lingkungan".

Hak atas foto BBC/Getty Images Image caption Jejak karbon dari perjalanan kereta api seringkali lebih kecil dari jarak terbang untuk jarak yang setara.

Tumbuhnya resistensi terhadap penerbangan telah meningkatkan jumlah perjalanan kereta api, di mana beberapa orang kembali menemukan daya tarik kereta malam. Lantas, mereka menekan para politisi untuk mengatasi dampak iklim penerbangan.

Akan tetapi, hal itu mau tidak mau turut mengubah cara pandang kita tentang bagaimana, mengapa, dan ke mana kita bepergian.

Perjalanan lambat

Meskipun "mempermalukan" adalah istilah yang sangat negatif, tujuannya positif - bagi orang-orang yang ambil bagian dalam gerakan ini maupun lingkungan.

Yang penting bukanlah "mempermalukan" orang lain yang terbang, tetapi mengubah pola perjalanan Anda sendiri.

Terlebih lagi, gerakan ini tidak mencegah orang untuk berjalan-jalan menjelajah dunia.

"Tidak terbang bukan berarti tidak bepergian," kata Anna Hughes, yang menjalankan kampanye Flight Free 2020 di Inggris.

Hak atas foto Getty Images Image caption Terkadang kita lupa bahwa pesawat tidak selalu merupakan pilihan tercepat atau termurah.

"Ada begitu banyak tempat yang bisa kita akses dengan cara lain."

Gerakan ini sebenarnya tentang mencari keseruan dari perjalanan panjang tanpa penerbangan. Salah satu pilihan yang jelas adalah perjalanan kereta api, yang emisinya hanya satu per sepuluh pesawat, kata Hughes.

"Dari sudut pandang saya, kereta jauh lebih menyenangkan," tambahnya.

Terkadang kita lupa bahwa pesawat tidak selalu merupakan pilihan tercepat atau termurah karena perjalanan kereta membawa Anda dari pusat satu kota ke kota lain.

Secara khusus, kereta api berkecepatan tinggi memiliki potensi besar sebagai alternatif: kereta berkecepatan tinggi telah terbukti mengurangi penerbangan pada rute yang sama sebanyak 80%.

Bahkan, meskipun perjalanan dengan kereta umumnya membutuhkan waktu yang lebih lama, kegiatan dalam kereta bisa jadi lebih menarik.

Hak atas foto Getty Images Image caption Melakukan perjalanan yang sama dengan kereta api hanya menghabiskan kira-kira 1/50 dari 'jatah' tahunan Anda.

Seperti Hughes, saya sangat menikmati perjalanan-perjalanan saya selama lima tahun belakangan, dari percakapan larut malam dengan beberapa pelancong Iran di kereta ke Verona, hingga menyeruput wiski di bar kereta malam dari Kaledonia ke Edinburgh.

Perjalanan lambat juga tidak terbatas pada jarak pendek.

Roger Tyers adalah sosiolog iklim yang baru-baru ini kembali dari "penelitian tanpa penerbangan" ke China, yang menghabiskan waktu dua minggu dalam perjalanan kereta api.

Ini mungkin terdengar seperti ekspedisi yang menakutkan, tetapi dia senang dengan perjalanan keretanya.

"Itu adalah perjalanan yang menakjubkan," katanya. "Saya telah melihat beberapa hal luar biasa yang tidak akan Anda saksikan saat naik pesawat."

Dia menyebutkan banyak keuntungan lain: seperti 'detoks digital', waktu membaca, berbicara dengan orang lain, dan tidak merasa jetlag.

"Dan menghargai ukuran planet kita dan betapa beragamnya bumi kita."

Dampak iklim

Penerbangan dari London ke Moskow menggunakan seperlima dari "jatah karbon" Anda sepanjang tahun.

'Jatah' ini adalah jumlah karbon yang dapat 'dikeluarkan' setiap orang pada tahun 2030 untuk menghindari tingkat pemanasan global yang berbahaya. Melakukan perjalanan yang sama dengan kereta api hanya menghabiskan kira-kira 1/50 dari 'jatah' tahunan Anda.

Hak atas foto Getty Images Image caption Greta Thunberg, 16, menolak menggunakan pesawat terbang dan memilih berlayar selama dua minggu di perahu dengan tenaga angin dari London ke konferensi perubahan iklim di New York.

Terlebih lagi, dampak emisi pesawat setidaknya dua kali lipat jika Anda menghitung efek pemanasan dari emisi selain CO2, seperti uap air dalam jejak kondenssasi dan nitrogen oksida yang dilepaskan pada ketinggian.

Hitungan itu meningkat tiga kali lipat lagi jika Anda mengambil kelas bisnis karena kursi yang lebih besar - yang menyebabkan ruang kabin kurang efisien.

"Semakin Anda memahami dampak iklim dari penggunaan pesawat, semakin Anda merasa bersalah setiap kali naik pesawat," kata Hughes.

Akar Swedia

Gerakan mempermalukan kebiasaan naik pesawat, pertama kali muncul pada tahun 2017, ketika penyanyi Swedia Staffan Lindberg mengumumkan keputusannya untuk berhenti terbang.

Selebritas lainnya ikut gerakan ini, termasuk Björn Ferry biathlete, yang berkomitmen untuk bepergian ke berbagai kompetisi dengan kereta api, dan penyanyi opera Malena Ernman, ibu dari aktivis iklim 16 tahun Greta Thunberg.

Sejauh ini, gerakan ini telah menciptakan banyak momentum di Swedia.

Hak atas foto BBC /Getty Images Image caption Kebalikan 'flight shame' adalah 'train bragging' atau pamer menggunakan kereta.

Hashtag #jagstannarpåmarken, yang diterjemahkan sebagai 'saya tetap berada di daratan', kini menjadi kata kunci populer.

Akun instagram yang mengundang selebritas untuk mempromosikan perjalanan ke tujuan yang nyaris tidak terjangkau kini juga memiliki 60.000 pengikut.

Upaya Thunberg untuk menghindari bepergian dengan pesawat sendiri telah menciptakan gerakan yang berdapak lebih jauh sekaligus mengundang cibiran dari sejumlah kalangan.

Gagasan tersebut tampaknya telah berdampak pada pola perjalanan masyarakat di Swedia.

Operator bandara Swedavia AB melihat jumlah penumpang turun dari tahun ke tahun di 10 bandara dalam tiga bulan pertama tahun 2019. Swedavia mengatakan perdebatan iklim adalah salah satu alasan di balik penurunan 3% dalam jumlah penumpang domestik pada tahun 2018.

Hak atas foto BBC/Getty images Image caption Swedavia mengatakan perdebatan iklim adalah salah satu alasan di balik penurunan 3% dalam jumlah penumpang domestik pada tahun 2018.

Secara total, 23% orang Swedia mengurangi perjalanan udara mereka pada tahun 2018 karena dampak iklimnya, menurut survei WWF.

Gerakan tidak-terbang juga mendapatkan perhatian di tempat lain.

Selain kampanye Bebas Penerbangan 2020 di Britania Raya, negara-negara lain seperti Kanada, Belgia dan Prancis memulai inisiatif mereka sendiri.

Hak atas foto BBC/Getty Images

Membuat keputusan untuk mengurangi perjalanan udara dalam kehidupan pribadi Anda adalah satu hal, tetapi moda transportasi itu masih diperlukan untuk kepentingan pekerjaan.

Meski demikian, beberapa organisasi telah mendukung gerakan ini. Surat kabar Denmark, Politiken, misalnya, telah menguraikan rencana untuk menghentikan penerbangan domestik oleh para jurnalisnya, dan mengalihkan rencana perjalanan dengan moda kereta.

Sementara itu, kalangan akademisi tengah membuat perubahan.

Beberapa ilmuwan terkenal yang mempelajari iklim mengaku terbang dengan pesawat lebih sedikit, baik untuk pekerjaan maupun kepentingan pribadi mereka. Sementara itu 650 akademisi sudah mendukung kampanye untuk mengurangi penerbangan.

Larkin, yang sudah tidak terbang dengan pesawat selama lebih dari satu dekade berpendapat bahwa perusahaan-perusahaan perlu mengubah kebijakan mereka tentang seberapa sering staf mereka terbang.

Hak atas foto Getty Images Image caption Pemerintah Swedia telah memperkenalkan "pajak lingkungan" pada industri penerbangan dan mengatakan akan berinvestasi dalam kereta malam.

"Saya dapat membayangkan dunia dalam waktu 20 tahun mendatang di mana orang-orang menertawakan bahwa kita dulu terbang ke ujung dunia untuk menghadiri pertemuan. Mengapa Anda melakukan itu?"

Ia menambahkan koneksi virtual yang baik dapat membantu mengurangi intensitas penerbangan untuk keperluan rapat.

Larkin berpendapat bahwa sangat penting bagi akademisi yang meneliti perubahan iklim untuk memberikan contoh pada masyarakat dengan mengurangi penerbangan mereka.

"Jika Anda pergi ke dokter umum dan melihat mereka merokok, tapi kemudian mereka menasihati Anda untuk berhenti merokok," katanya. "Anda akan berpikir, 'Saya tidak yakin rokok buruk bagi saya."

Perubahan sistemik

Jadi ke mana arah gerakan ini? Bisakah gerakan ini mengurangi jumlah penerbangan?

Sosiolog Tyers berpendapat bahwa efek sosial dari pilihan pribadi untuk tidak terbang jauh lebih penting dari emisi yang dapat dihemat dari satu penerbangan.

"Saya pikir orang membuang banyak waktu untuk membicarakan tindakan individu versus aksi kolektif," katanya.

"Saya tidak mengharapkan semua orang melakukan apa yang telah saya lakukan. Tapi saya harap pilihan saya telah meningkatkan kesadaran tentang masalah ini. Saya berharap gerakan ini dapat mempengaruhi orang-orang untuk mengganti perjalanan udara dengan moda transportasi lain."

Pandangan ini didukung oleh penelitian.

Dalam serangkaian riset, Steve Westlake, seorang kandidat doktoral di Universitas Cardiff, menemukan bahwa pilihan untuk menghindari penerbangan memiliki efek sosial.

Orang yang diwawancarai saat penelitian menunjukkan bahwa komitmen yang ditunjukkan oleh orang-orang yang mau naik pesawat mempengaruhi mereka untuk mencoba terbang lebih sedikit.

"Karena sulit, gerakan itu memiliki efek komunikatif yang cukup kuat," kata Westlake. "Jadi orang-orang bertanya,' Wow, kamu sudah tidak terbang sama sekali?"

Hak atas foto Getty Images Image caption Beberapa ilmuwan terkenal yang mempelajari iklim mengungkapkan pengalaman mereka untuk terbang lebih sedikit, baik untuk pekerjaan dan kehidupan pribadi mereka.

Tentu saja, sangat bisa dimengerti bahwa tidak semua orang akan mau atau dapat berhenti terbang dengan cara ini.

Namun, mengurangi sebanyak mungkin penerbangan dapat mengurangi jejak karbon dalam jumlah besar.

Saya tidak pernah membuat komitmen yang kaku untuk tidak pernah terbang lagi, tetapi saya mencoba untuk hanya melakukannya sesekali dan hanya untuk hal penting - seperti kepindahan saya tahun ini ke Kosta Rika.

Tujuan yang lebih besar dari gerakan itu, kata Westlake, adalah untuk mengenakan pajak penerbangan secara tepat sesuai dampak iklim yang ditimbulkan.

Termasuk juga, memungut pajak bahan bakar jet dan cukai bagi orang yang sangat sering terbang.

Pemerintah Swedia, misalnya, telah memperkenalkan "pajak lingkungan" pada industri penerbangan dan mengatakan akan berinvestasi pada industri kereta malam.

Memanfaatkan rasa malu untuk membantu memperbaiki iklim sebenarnya juga memiliki sisi kurang baik.

"Saya tidak terlalu menyukainya," kata Westlake. "Karena mempermalukan dan memanfaatkan perasaan bersalah memiliki konotasi negatif."

Hughes setuju, tetapi mengatakan bahwa ampanye itu perlu.

Anda bisa membaca versi bahasa Inggris dari artikel ini, Why flight shame is making people swap planes for trains di laman BBC Future.